Monday, November 16, 2015

Kumpulan Puisi Sahabat

Kumpulan Puisi Sahabat Penulis dalam majalah Poedjangga Baroe dipengaruhi oleh Tachtiger, kegiatan sastra Belanda dari thn 1880-an. Sutherland menyebutkan jika tema-tema romantis dimanfaatkan sbg pelepas lara atas perubahan dalam warga Indonesia. Kumpulan Puisi Sahabat  Tidak Sama dari karya-karya terbitan Balai Pustaka, umpamanya Sitti Nurbaya (1922) karya Beram Rusli, yg menekankan kearifan lokal, prosa yg dimuat dalam Poedjangga Baroe menekankan identitas nasional, & penulis bahkan posting mengenai daerah yg belum sempat dikunjungi. Tema lama, seperti kawin paksa, ditinggalkan. Kumpulan Puisi Sahabat Menurut Sutherland, sebahagian agung penulis Poedjangga Baroe memanfaatkan tema ambigu kepada pemerintah Hindia Belanda & budaya tradisional yang merupakan tema mutlak dalam karya mereka. Meski mereka menolak kekuasaan Belanda atas Nusantara, mereka merangkul budaya Barat; Sutherland posting bahwa sekian banyak penulis yg paling nasionalis sebenarnya amat kebaratan.[28]

Keith Foulcher, satu orang dosen sastra & bahasa Indonesia di Australia, posting bahwa puisi yg dimuat dalam Poedjangga Baroe berasal dari penataan ulang wujud tradisional & menekankan pemilihan kata yg estetis; menurut dirinya, tema yg dituliskan termasuk juga maksud mulia atau rasa kesepian di tengah keindahan alam.[42] Menurut HB Jassin, puisi-puisi ini, meski memakai wujud gaya Barat & diksi ala Indoneisa, masihlah memiliki irama Melayu.[43]
Penerimaan & pengaruh

Penerbitan Poedjangga Baroe disambut bersama hangat oleh penulis bujang & kaum intelektual, yg menganggapnya yang merupakan trick buat mengungkapkan pandangan nasionalis mereka.[38] Tapi, kaum tradisionalis mengeluh mengenai modernisasi bahasa Melayu yg dilakukan oleh Poedjangga Baroe. Geram Sutan, kepala Dewan Guru Bahasa Melayu, menyebut bahwa majalah ini merusak kemurnian bahasa Melayu Tinggi & wujud puisi tradisional.[31] Kaum tradisionalis pula menolak pemasukan bahasa serapan dari bahasa daerah & bahasa asing ke dalam bahasa Melayu Kumpulan Puisi Sahabat pula menyimpang dari wujud tradisional pantun & syair.[44] Tokoh Melayu lain yg menolak Poedjangga Baroe termasuk juga Agus Salim, S.Meter. Latif, & Sutan Mohamad Zain.

Karya sastra Indonesia yg diterbitkan antara thn 1933 & 1942 kadang-kadang dinamakan milik "angkatan Poedjangga Baroe", yg merujuk terhadap dominansi publikasi ini. Penerjemah sekaligus kritikus sastra Burton Raffel menyebutkan majalah ini juga sebagai "bidannya satu buah revolusi literer" & mencatat bahwa Poedjangga Baroe barangkali agung sudah mempengaruhi revolusi politik kepada thn 1940-an. Kumpulan Puisi Sahabat Tetapi, qualitas estetis karya-karya yg dimuat dalam Poedjangga Baroe waktu ini meraih kritik yg tercampur. Penulis sekaligus kritikus sastra Muhammad Balfas menyebut terhadap th 1976 bahwa biasanya puisi yg dimuat dalam Poedjangga Baroe terlampaui sentimental & penuh dgn retorika yg berlebihan; menurut ia, ini disebabkan pengaruh Tachtigers.[48] Tidak Sedikit dari karya ini telah mulai sejak terlupakan.

Kumpulan Puisi Sahabat - Bakri Siregar, seseorang kritikus sastra beraliran Marxis, mengutuk Poedjangga Baroe dikarenakan sifat politiknya yg netral. Dirinya berpendapat bahwa sifatnya itu membuatnya tak bakal mengerti kebutuhan penduduk dengan cara objektif, maka tak akan memang mencerminkan perjuangan nasional

Kumpulan Puisi Sahabat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ipan Ripai

0 comments:

Post a Comment